Minggu, 20 Desember 2020
Minggu, 01 November 2020
Sabtu, 10 Oktober 2020
Jumat, 09 Oktober 2020
Kamis, 23 April 2020
UJI KOMPETENSI KELAS XI MATERI RESENSI
UJI KOMPENTENSI MATERI RESENSI
A. BERILAH TANDA SILANG (X) HURUF A,B,C,D ATAU E PADA JAWABAN YANG PALING BENAR !
1. Berikut informasi yang disajikan dalam sebuah resensi , kecuali....
a. Manfaat buku
b. Harga buku
c. Penulis buku
d. Kualitas buku
e. Alasan penulisan buku
2. Identitas buku yang diresensi memuat keterangan-keterangan berikut, kecuali....
a. Judul buku
b. Penulis
c. Tahun terbit buku
d. Penerbit
e. Warna buku
3. Pola resensi yang mendeskripsikan hal-hal yang menonnjol dari sinopsis yang sudah disajikan disebut pola....
a. Fiksi
b. Ulasan
c. Nonfiksi
d. Ringkasan
e. Penjabaran
4. Perhatikan kutipan berikut !
Judul : Boulevard de Clichy-Agonia Cinta Monyet
Penulis : Remy Sylado
Penerbit : Gramedia Pustaka
Terbit : Maret-2007
Kutipan di atas merupakan bagian dari penggalan resensi buku yang disebut....
a. Identitas buku
b. Kepengarangan
c. Keunggulan buku dan kelemahan buku
d. Ikhtisar buku
e. Penilaian buku
5. Sayangnya, akhir cerita yang terkesan terburu-buru dan terlalu dipaksakan membuat kekuatan cerita menjadi berkurang. Cerita tanah air dan kembali lagi ke tanah air dan bertemu kembali lagi selama 5 tahun ternyata tidak dikisahkan sedetail dan seindah novel di bagian awal.
Kutipan di atas merupakan penggalan resensi yang mengemukakan ....
a. Identitas buku
b. Kepengarangan
c. Ikhtisar buku
d. Kelemahan buku
e. Keunggulan buku
6. Penggalan kalimat resensi buku nonfiksi terdapat dalam pernyataan....
a. Buku inib secara keseluruhan memberikan perlindungan terhadap anak-anak Indonesia pada masa depan dalam lingkungan yang baik-baik.
b. Gaya Mochtar Lubis sangat khas,penggunaan majas perbandingan banyak digunakan di dalam buku ini.
c. Semua unsur yang harus dimiliki dalam sebuah buku fiksi terpenuhi dalam buku ini.
d. Buku ini mengisahkan seorang guru bernama Isa yang hidup pada masa revolusi.
e. Dalam buku Burung-Burung Manyar pengarang menghubungkan kejadian yang dialami tokoh utamanya Setidewa alias Teto yang ber-aku.
7. Kendati novel ini mengundang pujian dari banyak pihak termasuk mereka yang seyogyanya bisa bersikap lebih kritis, ada beberapa catatan penting yang dapat kia ajukan pada pengarangnya. Seperti diingatkan mahafisikawan Inggris.Stephen Hawking, kelemahan (Hawking,1993).Artinya, tidak tunduk pada logika ketat dan sains yang riil.Sayangnya, novel ini pun terperosok ke dalam cacat yang nyaris sama.
Bagian resensi di atas ke dalam cacat yang nyaris sama.
a. Keistimewaan novel.
b. Pembaca pada mahafisikawan Inggris, Stephen Hawking.
c. Kelemahan novel yang diresensi.
d. Novel yang diresensi termasuk fiksi sains.
e. Novel yang diresensi bersifat terlalu mengada-ngada
8. Terlepas dari berbagai ketidaksempurnaannya, harus diakui bahwa buku pertama seorang “yogi buku”ini merupakan karya yang memikat. Bahkan cara dan gaya pengungkapannya, dalam kadar tertentu, telah memberikan sentuhan sastra yang cukup enak dinikmati. Kita menantikan karya berikutnya.
Komentar yang tepat untuk menutup resensi tersebut adalah....
a. Penutup resensi buku tersebut sangat tepat.
b. Pada bagian penutup resensi buku seharusnya mengajak pembaca untuk membaca buku tersebut karena sangat bermanfaat.
c. Pada bagian penutup resensi buku seharusnya mengajak pembaca untuk memikirkan, merenungkan, dan mendidkusikan lebih jauh fenomena atau problema yang muncul dalam sebuah buku.
d. Pada bagian penutup rsensi buku seharusnya memberikan informasi atau ppemahaman yang komprehensif tentang apa yang tampak dan terungkap dalam sebuah buku.
e. Pada bagian penutup resensi buku seharusnya berisi uraian tentang buku itu penting untuk siapa dan mengapa?
9. Mereka yang memilih jawaban positif, dengan sendirinya akan mencerna Beth sebagai sebuah film alternatif yang kaya makna. Sebaliknay, bagi pemilih jawaban negatif, tak lagi perlu memaksakan diri untuk menikmatinya.
Penggalan resensi film diatas mengemukakan tentang....
a. Penilaian terhadap fim Beth.
b. Film Beth yang tidak layak ditonton.
c. Ringkasan film Beth
d. Jawaban atas pemutaran film Beth.
e. Makna film Beth ditinjau dari kepentingan penonton.
10. Kumpulan kolom dalam buku ini sekalipun tidak bersifat menggurui, memberi pelajaran cukup berarti bagi para intelektual.Buku ini membuka mata para pembaca bahwa seorang intelektual dengan segala kepandaian dan keahliannya pun tidak bisa menyatu, paling tidak kaum intelektual punya kepedulian terahadap masyarakatnya.
a. Kelemahan buku
b. Keunggulan buku
c. Garis besar isi buku
d. Cerpen Isi buku
e. Penilaian buku
Bacalah kutipan berikut untuk menjawab soal nomor 11 s.d 13!
Secara khusus, resensi ini ingin mengulas secara sederhana keliam cerpen yang dimuat dalam antologi ini, yakni cerpen karya penulis yang berasal dariwilayah Jawa Barat, antara lain Agus Shahafi Nashshar, Riana Yahya, Nurul Maria Sisilia, Ferio, dan Lina Astuti.
Cerpen yang pertama, yaitu” Malahayu”.Cerpen ini ditulis oleh Agus Shahafi Nashsahar.Dari cerpen ini, kita bisa belajar banyak tentang penggunaan sudut pandang orang ketiga dengan kata lain ganti Kau.Cerpen ini berkisah tentang “ sesuatu” yang katanya kerap terjadi pada turn-penduduk setempat biasa menyebutnya Turen.(hal.29) di Waduk Malahayu sekitaran daerah Kota Brebes Melalui cerpen ini, kita pun diajak merenungi pernyataan –pernyataan retoris yang mampu membuat kita terpaku.
11. Berdasarkan sistematikanya, kutipan resensi di atas menunjukkan bagian....
a. Identitas resensi
b. Tubuh resensi
c. Kelebihan resensi
d. Kekurangan resensi
e. Penutup
12. Pernyataan yang sesuai berdasarkan kutipan resensi di atas adalah...
a. Judul antologi cerpen yang diresesnsi adalah Malahayu.
b. Resensi tersebut membahas sebuah buku yang ditulis oleh Agus Shahafi Nashshar.
c. Agus Shahafi Nashshar merupakan peresensi yang mengulas antologi cerpen Riana Yahya dan penulis lainnya.
d. Buku yang diresensi merupakan antologi cerpen yang ditulis oleh Agus Shahafi Nashshar, Riana Yahya, Nurul Maria Sisilia, ferio, dan Lina Astuti.
e. Seluruh cerpen pada antologi ini mengisahkan”sesuatu” yang katanya kerap terjadi pada Turen di Waduk Malahayu sekitaran daerah Kota Brebes.
13. Berdasarkan kutipan resensi tsb , konjungsi penegas teradapat pada paragraf kedua kalimat...
a. Pertama
b. Kedua
c. Ketiga
d. Keempat
e. Kelima
14. Sebelum menulis resensi, hal-hal berikut perlu diketahui peresensi, kecuali....
a. Isi buku.
b. Informasi tentang penulis buku.
c. Manfaat buku bagi pembaca.
d. Kelebihan dan kekurangan buku.
e. Kesulitan penulis saat membuat buku.
Cermatilah data-data novel berikut untuk menjawab soal nomor 15!
Judul novel : Rindu
Penulis : Tere Liye
Tahun Terbit : 2004
Penerbit : Republika
Deskripsi : Alur maju pada buku Rindu memudahkan pembaca mengikuti alur cerita, bahasa yang digunakan sederhana.
15. Kalimat resensi yang sesuai dengan ilustrasi tersebut adlah...
a. Seperti halnya novel Tere Liye yang lain, novel Rindu disajikan dengan sampul menarik dan istimewa.
b. Dalam novel ini , Tere Liye menggunakan kosakata Belanda tanpa disertai terjemahannya sehingga isi cerita sulit dicerna.
c. Novel Rindu karangan Tere Liye menggunakan alur maju sehingga pembaca dengan mudah mengikuti alur cerita.
d. Tere Liye kembali menulis novel yang diterbitkan tahun 2014 berjudul Rindu, bercerita tentang kerinduan seorang anak terhadap ayahnya.
e. Alur yang disajikan Tere Liye dalam novel ini melompat-lompat sehingga membuat pembaca penasaran akan kelanjutan setiap ceritanya.
B. JAWABLAH PERTANYAAN-PERTANYAAN DIBAWAH INI DENGAN BENAR!
1. Jelaskan arti resensi !
2. Sebutkan sistematika resensi!
3. Sebutkan pola penyajian teks resensi!
4. Cermatilah kalimat berikut!
Menggenapi pemahaman yang ditawarkan Dee bahwa tidak ada yang namanya kebetulan. Variasi konjungsi apakah yang digunakan pada kalaimat diatas?
5. Perhatikan kalimat berikut !
Bagi saya, buku ini... dibaca oleh siapapun, khususnya para remaja, agar lebih semangat dalam berpetualang.
Lengkapilah kalimat rumpang tesrsebut dengan kata yang menyatakan saran!
C. SOAL REMIDI
JAWABLAH PERTANYAAN-PERTANYAAN DI BAWAH INI DENGAN BENAR!
1. Jelaskan langkah-langkah menulis buku !
2. Sebutkan jenis teks resensi berdasarkan objeknya!
3. Jelaskan yang dimaksud dengan konjungsi temporal dan berikan contoh kalimatnya!
Salah satu keindahan hidup di dunia ini adalah ketika sebuah impian bisa menjadi kenyataan. Buku berjudul Senyum Kematian adalah salah satu keindahan yang dicerminkan oleh imajinasi penulisnya dalam sebuah karya berupa kumpulan cerita pendek yang terdiri atas 14 cerpen.Karya ini mengusung berbagai tema menarik yang mengajak para pembaca memahami kehidupan agar lebih bermakna. Di dalamnya juga terkandung arti sebuah perjuangan hidup, pencarian jati diri , keteguhan, dan cinta yang bisa menjadi renungan bagi para pembacanya untuk menyelami apa yang ada dibalik setiap peristiwa dalam kehidupan kita.Umumnya, kita sering tidak peduli pada peristiwa sehari-hari yang dianggap sepele. Menyikapi hal itu, kumpulan cerita ini mengajak pembacanya untuk lebih peka dengan setiap kejadian yang terkadang luput dari perhatian.
4. Berdasarkan objeknya, termasuk jenis apakah resensi di atas ?
5. Informasi apakah yang bisa didapatkan dari resensi di atas?
D. SOAL PENGAYAAN
JAWABLAH PERTANYAAN-PERTANYAAN DI BAWAH INI DENGAN BENAR !
1. Cermati kutipan resensi berikut !
Dengan membaca buku ini, anak muda bisa menjadi semakin percaya diri dan optimis. Anak muda diharapkan dapat mewujudkan impiannya jika mereka tahu cara yang benar untuk meraihnya. Dengan demikian, mereka bisa menjadi pemenang bagi masa depan mereka.
Terdapat pada bagian apakah kutipan resesnsi di atas?
2. Cermati ilustrasi berikut !
Randi memiliki buku yang berjudul Tenang Senang Menang : Tips Anak Muda Anti Bangkrut
Karya Soegeanto Tan. Buku ini diterbitkan oleh Grasindo dan pertama kali dicetak pada tahun 2016.Buku karya Soegeanto Tan ini berjumlah 184 halaman.
Berdasarkan ilustrasi di atas, bagaimanakah penulisan identitas yang benar?
3. Buatlah contoh kalimat majemuk!
4. Buatlah contoh kalimat dengan menggunakan konjungsi kausalitas !
5. Buatlah contoh kalimat dengan menggunakan pernyataan berupa rekomendasi !
Minggu, 26 Oktober 2014
MAJAS ANEKDOT
GAYA BAHASA
Menjelaskan Unsur-unsur intrinsik dalam penggalan novel yang dibacakan
Karya sastra pada umumnya menceritakan permasalahan kehidupan yang dialami manusia. Demikian pula dengan novel. Dengan kepawaiannya, sastrawan mengambil salah satu sisi kehidupan manusia lalu ditulis menjadi novel dengan gaya bahasa yang mampu mengharu biru perasaan pembacanya. Dalam menulis, sastrawan selalu berpedoman pada unsur-unsur pembangun sastra, di antaranya adalah gaya bahasa, latar, dan penokohan.
Berikut akan disajikan penggalan novel yang sangat kuat dan menarik dari sisi penggambaran, gaya bahasa yan digunakan pengarang, dan penokohan. Nah, ikutilah pembelajaran berikut:
A. Gaya Bahasa
Gaya bahasa dalam karya sastra berfungsi sebagai alat utama pengarang untuk melukiskan, menggambarkan, dan menghidupkan cerita secara estetika. Gaya bahasa sangat banyak jenisnya. Berikut dijelaskan beberapa jenis gaya bahasa yang sangat sering muncul dalam karya sastra.
1) Personifikasi
Gaya bahasa ini sering digunakan dalam karya sastra. Gaya bahasa ini mendeskripsikan benda-benda mati dengan cara memberikan sifat-sifat seperti manusia.
Contoh :
Matahari sedang mencium lembah-lembah gunung (Anak Bajang Menggiring Angin, Sindunata )
Dari arah hutan di lembah, pipit dan jalak berceloteh ria ( Pergolakan, Wildan Yatim ).
Ingat ranting, berkuping nyaring.
Ingat batu, pandai berkata.
Lonceng berbunyi, memanggil siswa untuk berkumpul.
2) Simile (Perumpamaan )
Gaya bahasa ini mendeskripsikan/menggambarkan sesuatu dengan pengibaratan. Ciri yang sangat tampak ,yakni adanya penggunaan kata ibarat, laksana, seperti, umpama, ataupun bak
Contoh :
Langit yang berawan itu adalah seperti payung ubur-ubur, yang diperbuat daripada sutra hijau ( Azab dan Sengsara, Merari Siregar ).
3) Hiperbola
Gaya bahasa ini mendeskripsikan sesuatu dengan cara berlebihan dengan maksud memberikan efek berlebihan.
Contoh :
Napas membiru, peluh bercucuran menganak sungai, debar jantung menggila, raung sirine yang memekakan telinga dan menggetarkan kat-kata, jendela membuat mereka bergerak semakin cepat ( Area X, Eliza Vitri Handayani ).
Selama ini, ia bekerja membanting tulang, memeras keringat untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
Air matanya menganak sungai.
Pelawak Supali berhasil mengocak-ngocak perut penonton.
Film drama rumah tangga itu berhasil mengguncang-guncang perasaan penontonnya.
4) Metafora
Gaya bahasa yang mengandung perbandingan yang sejajar atau memiliki kesamaan, sebagai pengganti suatu kata atau ungkapan
Contoh :
Raja siang bersinar diufuk timur.
Dewi malam keluar dari peraduannya.
Kepercayaan pada diri sendiri meluap seperti bibir.
5) Klimaks
Gaya bahasa yang penegasannya dengan menyebutkan beberapa hal berturut-turut yang makin lama menghebat.
Contoh:
Sepeda, becak, motor, mobil menghiasi keramaian lalu lintas dikota Surabaya.
Jangankan duduk, berdiri, bahkan bergerakpun ia tak mampu.
Sawahnya, rumahnya , ternaknya pun telah dijual olehnya.
6) Anti Klimaks
Gaya bahasa menyebutkan beberapa hal berturut-turut semakin menurun
Contoh :
Gedung-gedung, rumah-rumah, gubuk-gubuk, semuanya menutup pintu.
Jangankan berdiri, duduk, bahkan bergerakpun ia tak mampu.
Sawahnya, rumahnya,ternaknya pun telah dijual olehnya.
7) Repetisi
Gaya bahasa penegasan dengan cara mengulang-ulangi kata atau bagian kalimat.
Contoh :
Jangan cemas, dia pasti datang lagi, percayalah, dia pasti datang lagi.
Meskipun tidak lulus, engkau jangan putus asa, sekali lagi jangan putus asa.
Tenanglah, tenanglah, nanti aku yang membereskannya.
8) Paradoks
Gaya bahasa yang menyebutkan dua hal yang bertentangan padahal sebenarnya tidak
Contoh :
Pak Heru memang kaya, tetapi miskin batinnya.
Sering aku kesepian dikota besar yang ramai ini.
Wajahnya tampak seram, tetapi hatinya seputih salju.
9) Antitesa
Gaya bahasa yang memakai kata-kata yang berlawanan arti untuk mempertegas maksud.
Contoh :
Besar kecil, tua muda, laki-laki perempuan, semuanya menghadiri pertunjukkan itu.
Diam tetapi bekerja keras itulah contoh yang baik.
Hasil ulanganmu kurang memuaskan
10) Ironi
Gaya bahasa yang dipergunakan untuk menyindir secara halus lawan bicaranya
Contoh :
Lekas betul abang pulang hari ini,sekarang baru pukul dua belas malam.
Aduh, manis benar kopi ini, Rin ! Mungkin belum kau beri gula.
Wah, bagus benar tulisanmu, Ed ! Hampir-hampir tidak bisa dibaca.
11) Sinisme
Gaya bahasa yang menyindir lawan bicaranya dengan lebih kasar daripada ironi.
Contoh :
Mual perutku mendengar nasihatmu !
Jijik aku melihat sihidung belang itu!
Muntah aku melihat tingkah lakumu !
12) Sarkasme
Gaya bahasa yang menyindir lawan bicaranya dengan cara amat kasar sehingga bisa menyakitkan hati.
Contoh :
Memang otak udang isi kapalamu itu !
Hai berdebah, belum juga kau keluar dari ruangan ini !
Dia memang pernah minggat dari sini.
13) Metonimia
Gaya bahasa yang mempergunakan kata yang berasosiasi dengan suatu benda.
Contoh :
Cintanya lebih tingi dari pada singga sana .
Ibu tadi membawa kartini dari sekolah.
Pernahkah anda membaca pertiwi ?
Yanti membeli levis.
14) Pleonasme
Gaya bahasa yang memberikan keterangan terhadap suatu kata yang sebenarnya telah mengandung keterangan.
Contoh :
Nelayan itu mengarungi samudra yang sangat luas.
Kapal terbang itu jatuh dari atas ke bawah sehingga hancur berkeping-keping.
Sebenarnya dia telah mendengar berita itu dengan telinganya sendiri.
15) Inversi
Gaya bahasa yang menarik perhatian dengan cara membalik susunan katanya.
Contoh :
Cakap benar pemuda itu
Itulah mahkota pengetahuanku
Memang tidak punya malu anak itu.
16) Litotes
Gaya bahasa yang mempergunakan kata yang berlawanan arti dengan tujuan untuk merendahkan diri.
Contoh :
Sudilah Tuan singgah ke gubuk kami ?
Terimalah hadiah yang kurang berarti ini dengan tangan terbuka.
Pertolongan apakah yang Tuan harapkan dari saya yang bodoh ini ?
17) Simbolik
Gaya bahasa yang melukiskan sesuatu dengan lambang-lambang.
Contoh :
Berhati-hatilah berbicara dengan bunglon !
Janganlah engkau tertipu oleh Si Kancil itu !
Hendaknya jangan sampai tertangkap oleh lintah darat itu !
18) Koreksi
Gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu yang salah lalu dibetulkan lagi.
Contoh :
Selamat pagi anak-anak, maaf selamat sore.
Ayah sedang bekerja, bukan, sedang tidur.
Silakan duduk tuan, maaf, silakan makan.
19) Retoris
Adalah gaya bahasa dengan mengajukan pertanyaan yang tidak perlu dijawab, untuk menarik perhatian.
Inikah yang kamu maksud bekerja ?
Mungkinkah kalian pandai tanpa belajar ?
Siapakah yang tidak mengakui bahwa Tuhan itu Mahatahu ?
20) Asosiasi
Gaya bahasa yang membandingkan sesuatu benda yang telah disebutkan dengan benda lain. Pada umumnya asosiasi menggunakan kata penghubung.
Contoh :
Hatinya sedih bagai diiris-iris pisau.
Semangatnya keras seperti baja.
Mukanya pucat bagai mayat.
21) Sinekdok
Gaya bahasa yang menyebutkan sesuatu benda. Bila penyebutan sebagian yang dimaksudkan disebut Sinekdok pars pro toto.
Contoh :
Sudah lama aku tidak melihat batang hidungmu.
Tak puasnya ia memandang tubuh yang kecil montok itu.
Bu Tina membeli tiga ekor ayam yang disembelih.
Sedangkan bila penyebutan itu seluruhnya tetapi yang dimaksudkan sebagian disebut Sinekdok totem pro parte.
Contoh :
Indonesia mendapat piala emas dalam Asian Games tahun ini.
Pada hari itu bangsa Indonesia mengumumkan kemerdekaannya.
Letusan bom Nagasaki sungguh telah menggoncangkan dunia.
22) Paralelisme
Gaya bahasa perulangan yang terdapat di dalam sajak. Bila perulangan itu terdapat pada awal baris disebut anafora.
Contoh :
Kaulah diam malam yang kelam,
Kaulah tenang sawah yang lapang,
Kaulah lelap orang di lawang,
Ah, engkau nan masih lemah melambai
………………………………………….
Rustam Effendi, Percikan Permenungan
Sedangkan bila perulangan itu terdapat pada akhir baris disebut Epifora
Contoh :
Kaulah kau memang, Ia akan datang
Bila kau pinta,ia akan datang
Jika kau kehendaki, ia akan dating
23) Retisentia
Gaya bahasa yang menyembunyikan sebagian pikiran atau perasaan untuk menarik perhatian.
Contoh :
Wajah yang senantiasa jernih lembut pada pemandangannya itu …………
Memang dia amat bijaksana lagi pula………………………….
Tentu saja peristiwa itu membuat Nani…………..
24) Tautologi
Gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu dengan cara menyebutkan dua kata yang searti
Contoh :
Peristiwa itu tidak saya inginkan, tidak saya harapkan.
Kehadirannya tidak saya panggil, tidak saya undang.
Cintanya telah berurat berakar.
25) Asindenton
Gaya bahasa penyebutan beberapa hal secara berurutan tanpa menggunakan kata sambung.
Contoh :
Kaya, miskin, pandai, bodoh, sama saja di hadapan Tuhan.
Sedih, sakit, susah telah menjadi untungnya selama ia dalam perantauan.
Kesulitan,kegagalan adalah makanan pagi bagi wiraswastawan
Bila penyebutan itu menggunakan kata sambung disebutpolisindenton.
Contoh :
Orang tuaku dan kakak-kakakku seta adik-adikku berdoa untuk keberhasilanku.
Kedua tangannya dan kedua kakinya sangat manis dan lucu bentuknya.
Inilah saat aku bekerja dan hidup serta tidak terganggu.
B. Latar
Latar atau biasa disebut dengan istilah setting, yakni meliputi tempat, waktu, dan keadaan lingkungan. Latar dalam sastra sering digambarkan dengan gaya bahasa tertentu.
Contooh :
Sore itu, tidak seperti biasanya, pada jam 6 sore Bu Agung dan si Mbak baru muncul di kamar saya di rumah sakit ( Sastrio Piningit Umar Kayam ).
C. Penokohan
Penokohan adalah watak/karakter tokoh cerita yang dipaparkan oleh pengarang. Penokohan biasanya ditampilkan pengarang melalui :
1. pengarang langsung menyebutkan watak tokoh;
2. penggambaran fisik tokoh;
3. apa yang diperbuatnya(terutama menghadapi situasi kritis )
4. ucapan-ucapan tokoh/pikiran-pikiran tokoh;
5. apa yang dikenakannya.
Tugas individu :
Bacalah penggalan novel Anak Bajang Menggiring Anginkarya Sindhunata berikut dengan saksama ! Kemudian catatlah kalimat-kalimat yang menggunakan gaya bahasa dan kalimat yang menjelaskan latar cerita !
Langit bagai berdetak, bintang-bintangnya meneteskan gerimis air matanya. Malam yang dingin mengajak bulan keluar dari lubuk kegelapan. Musim-musim harapan sedang merekah di pucuk-pucuk daun. Harum kembang-kembangnya. Sebentar lagi fajar pun cepat tiba. Membuka alam bagi Rama dan Sinta serta Laksamana untuk melangkah dalam cerita di hutan belantara.Ketiga anak manusia ini bagaikan kumbang-kumbang yang baru saja mengenal keindahan hutan dengan kembang-kembangnya. Menatap alam dengan kepasrahan hatinya. Menyelami rimba raya dengan kejujurannya. Hutan yang dahsyat dan ganas menjadi napas yang tenang dalam keheningan budinya.
Di sunagai yang bening airnya berderai menyibak akar-akar pohon yang menjulur di dalamnya. Gemericiknya bagai suara anak-anak burung yang minta kehangatan sayap ibunya. Sinta mandi di sungai yang indah ini . Tubuhnya yang cantik menyelam dalam kedinginanya. Sang surya kasihan melihatnya, dan dikirimkan cahaya yang hangat, menerobos celah-celah dedaunan pohon-pohon rimba.
Rama mengamati kekasihnya. Cinta Sinta terasa harum bagai wewangian kembang-kembang disekitarnya. Sinta memandangnya dengan mata yang sebasah pagi dengan tetesan-tetesan embunnya.
Di tengah suasana yang indah ini, tiba-tiba bergeramlah suara laksana gunung yang mau rebah. Angin yang bertiup lemah seperti tersibak oleh langkah makhluk raksasa. Makin dekat makin menggetarkan hati suaranya. Sinta ketakutan lari memeluk Rama. Muncullah raksasa yang jahat rupanya. Wirada namanya, pengacau ketenangan rimba.
“Siapakah engkau, hai manusia ? Berani benar kamu mengarungi rimba. Kamu hanya akan menjadi mangsa perutku yang sudah lama lapar akan daging manusia,” kata Wirada. Mulutnya masih berdarah, bekas daging-daging busuk binatang hutan menempel di dadanya. Suaranya mengaum-ngaum seperti singa kelaparan. Kedatangan Wirada yang jahat ini membuat burung-burung bertebaran. Binatang-binatang kecil pun lari tunggang laggang.
Dalam sekejap, Wirada menarik Dewi Sinta ke dalam pelukannya. Serupa mutiara putih keadaan Dewi Sinta di tangan Wirada. Mutiara itu berlinangan air matanya. Jatuh menetes menjadi pelepas kesepian bumi rimba yang kini kesakitan diinjak kaki Wirada. Wirada tertawa menggelegar sampai pohon-pohon bergoyang ketakutan
Rama menjadi gelap pandangan matanya. Ia larut dalam keputusasaannya. Dari mulutnya, keluar kata-kata yang mencela penderitaan yang harus dihadapinya.
“ Mengapa mesti burung-burung ini terbang dari sarangnya ? Mengapa mesti aku meninggalkan istana bersama kekasihku untuk menemui raksasa jahat ini. Kekasihku tiadakah kautahu akan dosa-dosamu, hingga aku harus mengalami seperti ini ?”kata Rama meratap. Laksamana getir hatinya mendengar keluhan kakaknya. Ia memperingatkan Rama dengan geram.
“ Kakakku, kenapa engkau menjadi demikian lemah ? Rimba raya ini mejadi temanmu. Bersama rimba raya yang sepi ini kauharus menghadapi dukamu. Engkau adalah Wisnu di dunia. Apa artinya seorang raksasa di hadapanmu ,” kata Laksmana.
Serentak terdengarlah suara dari langit. Bidadari seakan lari menunggang kuda putih, menyentakkan Rama yang baru saja disadarkan, kata Laksmana.
“ Rama,Rama, Masih banyak lagi raksasa yang harus kauhadapi. Masih ada satu lagi raksasa paling jahat yang harus kau akhiri hidupnya, kelak di akhir pengembaraanya . Wirada mengajakmu mengingat akan tugasmu,” kata suara dari langit itu.
(Sumber : Horison Sastra Indonesia Kitab Nukilan Novel, 2002 )
Pelatihan :
Untuk mengukur pemahamanmu tentang isi penggalan novel Anak Bajang Menggiring Angin, kerjakanlah soal-soal berikut !
1. Berdasarkan catatanmu saat membaca, kutiplah delapan kalimat yang menggunakan gaya bahasa personifikasi dalam penggalan novel Anak Bajang Menggiring Angin !
1. Bintang-bintang meneteskan gerimis air matanya
2. Malam yang dinginmengajak bulan keluar dari lubuk kegelapan
3. Sampai pohon-pohon bergoyang ketakutan
4. Menyelami rimba raya dengan kejujurannya.
5. Hutan yang dahsyat dan ganas menjadi napas y Hutan yang dahsyat dan ganas menjadi napas yang tenang dalam keheningan budinya
6. Di sungai yang bening airnya berderai menyibak akar-akar pohon yang menjulur di dalamnya
7. Sang surya kasihan melihatnya,dan dikirimkan cahaya yang hangat, menerobos elah-celah dedaunan pohon-pohon rimba
8.………………………………………………………………………………………………
9.………………………………………………………………………………………………
10.……………………………………………………………………………………………
2. Kutiplah delapan kalimat dari penggalan novel Anak Bajang Menggiring Angin yang menggunakan gaya bahasa simile !
1. Langit bagai berdetak
2. Ketiga anak manusia ini bagaikan kumbang-kumbang
3.
4.………………………………………………………………………………………………
5.………………………………………………………………………………………………
6.………………………………………………………………………………………………
7.………………………………………………………………………………………………
8.………………………………………………………………………………………………
9.………………………………………………………………………………………………
10.……………………………………………………………………………………………
3. Tentukan latar cerita dari penggalan novel Anak Bajang Menggiring Angin ! Berikan data pendukung berupa kutipan kalimatnya !
Latar Data pendukung
a. Tempat :……………………………
b. Waktu : ……………………………
c. SuasanaLingkungan: …………………
……………………………………………………….
……………………………………………………….
……………………………………………………….
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
4. Tulislah tokoh dan penokohan beserta data pendukung berupa kutipan kalimatnya !
Tokoh Penokohan Data Pendukung
…………………………
…………………………
…………………………
………………………… …………………………………
…………………………………
……………………………………
…………………………………… …………………………………
…………………………………
…………………………………….
…………………………………….
Selasa, 02 Oktober 2012
Langganan:
Postingan (Atom)